Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Bersyukurlah, smw kan terasa indah

Written By Anonim on Jumat, 22 April 2011 | 06.30

Saudaraku yg hatinya seluas samudra, betapa beban yg ia rasakan bak garam pahit, yg apabila ia letakkan dalam hati yg sempit ibarat segenggam air, tentulah ia merasakan sesak krn hati yg pekat…
tetapi, beban itu ia masukkan ke dalam hati yg luas tak bertepi..seperti kesabaran yg tiada pernah habis.

Hati yg ikhlas,, aku melihat pengorbanannya..

Sesak dan sempitnya dunia ini, apalah yg menjadikannya?
Adakah karena berkurangnya rasa syukur kita pada-Nya...
Beranikah mengeluh kalau Allah tiada peduli padamu?
Padahal, saat sepertiga malam kita masi terlelap pun IA slalu terjaga untuk menyambut sujud kita, menanti rintisan pinta kita, tuk sekedar mengingatkan bahwa IA slalu ada..
Tiadakah rasa malu, saat ia mmbuat skenario terindah dlm hdp kita, namun kita masi terlelap dlm alunan mimpi duniawi?
Bahkan terkadang di pagi hari bukan syukur yg didapati,,
Masyaallah..
Adakah kita masih merasa serba kekurangan, padahal IA Maha Tahu segala apa yg terbaik untuk kita..

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)-Ku" (Q.S Al Baqaroh : 152)

Bersyukurlah, krn dgn cara itu smwnya akan terasa indah
-------------------------------------------------------------------------------
Bertanya pada hati . .
yang jawab hanya sunyi, enggan tuk akui . .
berkaca pada diri, yang ada hanya illusi,,
asa tak pungkiri . .
Akhirnya mencambuk diri . .
Bangun dari mimpi-mimpi . .
Syukuri ni'mat yg IA beri
--------------------------------------------------------------------------------

Saat kegelisahan merasuki hati,
Di sela-sela pengerjaan Laporan KP yg tak kunjung usai,
padahal sidang menanti..
Bismillah, semoga Allah selalu memudahkan tiap-tiap urusan kita,
^_^
281110, 03:32
06.30 | 0 Komentar

"7 Keajaiban Dunia"

Written By Anonim on Rabu, 20 April 2011 | 07.29

Suatu saat sekelompok kelas geografi sedang mempelajari tentang “Tujuh Keajaiban Dunia”.. di awal pelajaran sang guru menyuruh kepada setiap muridnya untuk membuat daftar apa yang mereka pikirkan merupakan tujuh keajaiban dunia saat ini.. walaupun ada beberapa ketidak sesuaian, sebagia besar daftar yang mereka tuliskan adalah :

1. Piramida
2. Tembok Besar China
3. Taj Mahal
4. Menara Pisa
5. Kuil Angkor
6. Menara Eiffel
7. Kuil Parthenon

Ketika semua murid mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang siswi yang pendiam yang belum mengumpulkan kertas kerjanya..

Sang guru bertanya kepadanya, apakah ia mempunyai kesulitan dengan daftarnya ???

Siswi pendiam itu menjawab : “ saya tidak bisa memilih karena banyaknya..”

Sang Guru berkata : “ baik, katakan pada kami, apa yang kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya..”

Sejenak siswi tersebut ragu, dan kemudian membaca tulisannya : “ saya pikir tujuh keajaiban dunia itu adalah :

1. Bisa Melihat
2. Bisa Mendengar
3. Bisa Menyentuh
4. Bisa Menyayangi..

Sang siswi sejenak kembali ragu, dan kemudian kembali melanjutkan..

5. Bisa Merasakan
6. Bisa Tertawa
7. Dan Bisa Mencintai…

Dengan seketika ruangan kelaspun menjadi sunyi…
Alangkah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya sebagai “KEAJAIBAN”.. Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, dan kita menyebutnya sebagai hal yang “BIASA”..

Subhanallah...
Sahabat.. Nikmat Nya yang manakah yang kita dustakan?

sumber: http://amu-fahri.blogspot.com/2011/01/tujuh-keajaiban-dunia.html
07.29 | 0 Komentar

Mutiah, Wanita Pertama Penghuni Purga


Suatu ketika, Fatimah Ra bertanya kepada Rasulullah SAW Siapakah perempuan yang kelak pertama kali masuk surga? Rasulullah SAW menjawab; dialah seorang wanita yang bernama Mutiah.


Fatimah Ra terkejut. ternyata bukan dirinya, seperti yang ibayangkannya. mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rasulullah SAW sendiri? maka timbullah keinginan Farimah Ra untuk mengetahui siapakah gerangan perempuan itu? Dan apakah yang telah diperbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah minta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib Ra, Fatimah Ra berangkat mencari rumah kediaman Mutiah. Putranya yang masih kecil bernama Hasan diajak ikut serta.


Ketika tiba di rumah Mutiah, Fatimah Ra mengetuk pintu seraya memberi salam

"Assalamualaikum....!"

"Wa Alaikumsalam!Siapa diluar?" terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah & merdu.

"Saya Fatimah, putri Rasulullah," sahut Fatimah Ra kembali.

"Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rasulullah, sudi berkunjung ke gubug saya," terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria semakin mendekat ke pintu.

"Sendirian, Fatimah," tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, yaitu Mutiah seraya membukakan pintu.

"Aku ditemani Hasan." jawab Fatimah Ra.

"Aduh, maaf ya," kata Mutiah, suaranya terdengar menyesal. "Saya belum sempat mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki2."

"Tapi Hasan kan masih kecil?" jelas Fatimah Ra.

"Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki2. Besok saja anda datang lagi, ya? Saya akan minta izin dulu kepada suami saya," kata Mutiah dengan menyesal.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Fatimah Ra pamit & kembali pulang.

Besoknya, Fatimah Ra datang kembali ke rumah Mutiah, kali ini ia ditemani oleh Hasan & Husain. Bertiga mereka mendatangi rumah Mutiah. Setelah memberi salam & dijawab gembira, masih dari dalam rumah Mutiah bertanya,

"Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya telah memberi izin."

"Ya, juga ditemani oleh Husain," jawab Fatimah.

" Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, & Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga," dengan perasaan menyesal, Mutiah kali ini juga menolak.

Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Mutiah.

Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu di rumahnya.

Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, & baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum & segar, membuat orang betah tinggal di dalamnya.

Fatimah sangat kagum melihat suasana yang menyenangkan itu, sehingga Hasan & Husain yang biasanya tak begitu betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

"Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya," kata Mutiah sambil mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu.

Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya, kemudian diletakkan di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga diletakkan di atas nampan.

"Suamimu bekerja dimana?" tanya Fatimah.

"Di ladang," jawab Mutiah.

"Pengembala?" tanya Fatimah lagi.

"Bukan, bercocok tanam."

"Tapi mengapa kau bawakan cambuk?"

"Oh itu?" sahut Mutiah dengan tersenyum. "cambuk itu aku sediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah masakan saya cocok atau tidak? Kalau dia bilang cocok, maka tidak akan terjadi apa2. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami & menyenangkan hatinya."

"Apakah itu kehendak suamimu?" tanya Fatimah keheranan.

"Oh, bukan! suami saya adalah seorang yang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami."

Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.

"Pantas kalau Mutiah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga," kata Fatimah dalam hati, ditengah perjalanannya pulang, "dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Perilaku kesetiaan macam ini bukanlah lambang perbudakan wanita oleh kaum laki2. Tapi, merupakan cermin bagi citra ketulusan & pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama

07.18 | 0 Komentar

Mari Jadikan Rumah Kita Menjadi Rumah Dakwah dan Benteng Moral

Written By Anonim on Senin, 18 April 2011 | 01.21

Penduduk dunia sekarang sedang menghadapi ancaman penyakit paling berbahaya yang dahulu pernah menghancurkan sebuah bangsa, seperti bangsa Romawi. Yaitu penyakit materialisme yang sekarang muncul dalam bentuk lebih canggih dan lebih mempesona. Di era teknologi digital seperti sekarang ini, penyebarannya lebih ganas dan super cepat. Mereka yang terjangkiti akan mengalami kematian nurani, keruntuhan moral dan kekeringan jiwa.[1]

Akibat pengaruh budaya materialisme yang kering dari nilai moral dan spiritual itu, sebagaimana Sayid Qutb menuliskan pengalamannya sewaktu di Amerika, membuat sikap dan gaya hidup manusia modern menjadi kaku, keras, egois dan masa bodoh. Bahkan karya arsitekturnya pun mencerminkan keangkuhan dan kekakuan.[2] Hati yang dipenuhi dengan ambisi materi membuat watak menjadi keras dan tutur kata pun menyakitkan. Canda dan lawakannya berupa umpatan, cacian dan makian. Semua itu bertentangan dengan adab dan akhlaq Islami. Karena seorang mukmin itu, kata Rasulullah Saw., “bukan pencela, bukan pengutuk, bukan pemaki, bukan pula pencaci.” [Hr. Turmuziy]

Membesarkan anak-anak di zaman sekarang, khususnya bagi umat Islam, menghadapi tantangan yang sangat berat. Walau pun manusia modern bisa menemukan mesin super canggih untuk meringankan gerak hidup mereka, namun mesin pencetak anak sholeh tidak akan pernah ditemukan. Sebaliknya mesin perusak mental sudah ditemukan dengan berbagai bentuknya: dari TV hingga internet... Cukup satu jam saja, anak-anak yang baik pun akan rusak mentalnya dengan diputarkan program-program media yang jorok.

Sebenarnya orang tualah mesin pencetak anak-anak sholeh itu. Sebab kualitas orang tua menentukan kualitas anak-anaknya. Seperti kata penyair: “Seorang anak tumbuh tergantung bagaimana orang tuanya * sebagaimana tumbuhnya pohon tergantung bagaimana bibitnya.[3] Seperti peribahasa mengatakan, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Maka, seorang ayah bertanggung jawab untuk memberi contoh sebagai lelaki sholeh di depan anak-anaknya. Begitu juga seorang ibu. Kata Ahmad Syauqi, yang dijuluki amiirus syu’ara’ (pemimpin para penyair) dari Mesir, “Ibu adalah sekolahan, jika kau persiapkan ibu yang baik, berarti kau persiapkan sebuah bangsa yang mulia.”[4]

Orang tua itu ibarat mesin cuci bagi anak-anaknya. Ketika mereka pulang ke rumah dengan membawa “kotoran”, maka mesin cucinya adalah orang tuanya. Jangan biarkan ucapan dan perilaku buruk pada anak yang didapat dari pergaulannya di luar rumah bertahan lebih dari semalam. Ibarat kotoran yang telah berdaki, ucapan dan perilaku buruk yang telah mengendap pada diri anak akan susah untuk dihilangkan.

Kini, umat Islam tidak lagi dapat mengandalkan benteng moral dan akhlaq dari masyarakat. Benteng moral dan akhlaq terakhir yang dapat diharapkan adalah rumah kita sendiri. Benar, kata Syaikh Naser as-Samarkandiy menukil sebuah riwayat, “masuk rumah berarti masuk ke dalam kebaikan dan meninggalkan rumah berarti meninggalkan kebaikan.” Pertanyaannya, jika rumah seorang muslim sudah tidak lagi berfungsi sebagai benteng moral bagi keluarganya, lalu di mana lagi tempat yang steril untuk menjaga moral dan akhlaq bagi generasi umat ini??

Dalam kondisi masyarakat seperti ini, keluarga muslim lah benteng terakhir itu. Di sana diharapakan bisa menjadi sumber kebaikan buat keluarga dan masyarakatnya, sekaligus sebagai cermin moralitas umat yang ideal. Di sana ada sosok suami yang sholeh dan istri sholehah yang saling memahami hak dan kewajiban masing-masing; sosok anak sholeh-sholehah yang menghormati dan mencintai kedua orang tuannya dan di sana pula berhimpun pribadi-pribadi mulia yang mencerminkan gambaran nyata sebuah keluarga sakinah yang diberkati. Itulah keluarga dakwah, tempat pelatihan dan pembiasaan adab dan kesusilaan. Di sanalah akhlaq mulia dipupuk dan dikembangkan. Sebab, akhlaq mulia ibarat tanaman hias. Tidak bisa dibiarkan untuk tumbuh menjadi baik dan indah tanpa perawatan.

Syaikh Abul Hasan Ali al-Wawardi dalam Adabud Dunya wad Diin menulis, “jiwa manusia cenderung bersikap lalai dan santai, tidak bisa dengan sendirinya berakhlaq mulia tanpa melalui pembinaan adab (ta’dib)... Orang yang tidak pernah diberi pendidikan adab (moral) dan hanya diserahkan kepada akalnya semata-mata, atau dibiarkan menjadi baik dengan sendirinya, tidak mungkin bisa menyamai orang yang dididik moralnya dengan sungguh-sungguh... Karena, adab itu hanya diperoleh dengan pelatihan dan diperbaiki dengan pembiasaan… seandainya adab dapat dicapai hanya dengan akal, niscaya para nabi tidak perlu mengajarkan adab dan cukup dengan akal dari masing-masing orang. Padahal, untuk perbaikan adab (moral) itulah Rasulullah Saw. diutus. Kata beliau, “Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq.”[5]

Namun, ada anggapan bahwa perilaku dan adab manusia itu tidak dapat dirubah. Dan, Imam al-Ghozali tidak sependapat dengan anggapan itu: “Jika adab dan akhlaq manusia tidak dapat dirubah maka wasiat, nasehat dan pendidikan adab itu sia-sia belaka. Tentu Rasulullah Saw. pun tidak akan bersabda, “perbaikilah akhlaqmu!” Bagaimana hal itu tidak mungkin terjadi pada diri manusia, sedangkan pada binatang saja bisa terjadi. Seperti binatang buas dan kuda liar bisa dijinakkan.[6]

Lebih lanjut, al-Ghozali menulis, “kemuliaan akhlaq itu di samping merupakan anugerah dan rahmat Allah, juga bisa diperoleh melalui mujahadah (usaha keras) dan riyadhoh (disiplin latihan). Yakni, secara konsisten berusaha mengerjakan segala amal yang dapat menumbuhkan akhlaq mulia dalam diri. Misalnya, jika orang ingin memiliki sifat dermawan, maka hendaklah ia membiasakan diri untuk memberi dan berbagi… jika ia menjaga perbuatan itu walau pun sulit pada awalnya, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan (akhlaq) dan muncul begitu saja dari dirinya tanpa rasa berat. Hingga akhirnya menjadi kelezatan ketika melakukannya.”[7]

Pendidikan adab sebaiknya dilakukan sejak dini. Dan itu tidak berarti menghalangi perkembangan kreatifitas dan psikomotorik anak, seperti anggapan sebagian orang. Sehingga membiarkan anak-anak mereka bertingkah dan bertutur kata di luar batas-batas kesopanan. Dahulu para hukama’ berkata: “Bersegeralah mendidik anak-anakmu dengan adab dan kesantunan mumpung masih dini sebelum kesibukan menumpuk dan hati mereka penuh kekacauan.” Senada dengan itu seorang penyair menyatakan dalam bait-bait syairnya:

Dahan-dahan muda mudah diluruskan
Bila menjadi kayu sudah sulit dilakukan
Usia dini cocok untuk membina kelakuan
Terlanjur tua, adab sudah tidak mempan.[8]

Tidak diragukan lagi, hanya di dalam keluarga muslim yang menjujung dakwah proyek pembinaan adab dan moral generasi penerus umat ini dapat diwujudkan. Keluarga dakwah membangun keluarganya dengan keteladanan, membesarkan anak-anaknya dengan kelembutan dan kasih sayang serta mendidik mereka dengan adab dan akhlaq mulia, berdasarkan petunjuk al-Qur’an, sunnah Rasulnya dan contoh dari salafus sholih. Maka, keluarga dakwah adalah benteng terakhir moral umat ini.

Hamim Tohari
http://islamedia-online.blogspot.com/2010/12/mari-jadikan-rumah-kita-sebagai-rumah.html
01.21 | 0 Komentar

Memaafkan dengan Sempurna ^_^

SAKIT HATI merupakan situasi kejiwaan yg mungkin hampir dialami semua insan, entah itu karena pengabaian, penolakan ataupun hal hal sepele dalam satu kisah Cinta yang tak bersambut. Tidak jarang terjadi, silaturahmi yang terjalin sekian lama dan kian mendekat itu kemudian berubah menjadi sebuah api kecil yang merenggangkan sebuah jalinan ukhuwwah.

Iblis memang pintar, mereka menyelinap dalam egoisme, membuat kita merasa benar dan berhak atas kemarahan yang sebenarnya tidak perlu berkepanjangan itu, bahkan tidak jarang juga membuat kita terlupa atau mengabaikan beberapa kaidah kaidah keindahan hukum dalam Islam yg sempurna ini.

Saya tertarik untuk membahas kembali catatan lama ini karena terenyuh mendengar kisah seorang Ahwat yang dimusuhi rekan dakwahnya sendiri karena Cintanya tak bersambut? Si akhwat begitu menderita dengan kondisi demikian, kondisi semakin memburuk ketika sang Ikhwan yang faqih itu terus menyerang si akhwat dengan dalil dalil yang membuat si Akhwat terus merasa bersalah.

Adakah kaidah kaidah keilmuan dalam Islam bisa digunakan untuk kepentingan diri pribadi atau sekedar ingin memenangkan perspective sendiri?

Tidak demikian! Tidak mungkin seorang Hamba bisa Menipu Tuhannya.
Apapun bentuknya, dalam kondisi apapun dua muslim yang bermusuhan tetap berada dalam keadaan merugi, bahkan sangat sangat merugi karena terlepas dari ampunan Allah..

Allah akan menangguhkan pengampunan-Nya kepada dua jiwa yg tercemari permusuhan dan kebencian,..

“Semua amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap Jum’at (setiap pekan) dua kali; hari senin dan hari kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni (dosanya) kecuali hamba yang di antara dirinya dengan saudaranya ada permusuhan. Difirmankan kepada malaikat :” tinggalkanlah atau tangguhkanlah (pengampunan untuk) dua orang ini sehingga keduanya kembali berdamai” (HR Muslim : 4/1988, Riwayat dari Abu Hurairah Ra)

Sebetulnya dalam hati hati yang lembut itu tersedia pasokan maaf, kemarahan itu hanya bergelora beberapa saat saja ketika iblis mempengaruhi emosi kita, saat pengaruh itu hilang akan ada bisikan nurani untuk memaafkan dan di ikuti sesal sesal...

Tapi kemudian, egoisme pemikiran kita menolaknya dan menjaga kebencian itu hingga menahun.
Sungguh, Islam mengajarkan kita untuk memaafkan dengan sempurna.

Bukan tidak ada konsekuensi di balik ajaran Islam yang indah, ada ketentuan dan batas batas yang harus kita patuhi. Dalam sebuah Al-Hadits Rasulullah telah memberi Ultimatum, bahwasaanya marah itu tidak boleh lebih dari tiga hari.

“Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka”

(HR Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’ : 7635, Diriwayatkan dari Abu Hurairah)

Betapa indah makna yang tersembunyi di dalamnya. Jika kita renungi, seakan Islam telah memahami bahwasannya rasa marah itu ada, sehingga kita bisa saja marah dalam batas batas tertentu - tapi - di ikuti dengan konsekuensi jangan lebih dari tiga hari.

Dan konsekuensi itu tidak tanggung tanggung, yaitu berupa ancaman NERAKA YANG MENDIDIH jika ternyata dalam tiga hari itu salah satu dari kedua jiwa yang tidak rapih itu meninggal.

Masya Allah..
Betapa meruginya ketika kita membuat sakit hati seseorang lalu kita mengabaikan maaf sampai suatu hari kita terlupa dan orang yang kita putuskan persaudaraannya itu meninggal? Atau kita yang meninggal duluan...

“Barangsiapa memutus hubungan dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan darahnya (membunuhnya) “

(HR Al Bukhari Dalam Adbul Mufrad no : 406, Shahihul Jami’: 6557 | Dari riwayat Abu khirasy Al Aslami Ra)

Betapa sadisnya..
Bayangkan jika yang kita musuhi itu keluarga kita, paman kita, adik kita, kakak kita, atau tidak jarang cerita anak sama mamah atau ayah sendiri ?

Apa yang Harus Kita Lakukan?



ISLAM MENGAJARKAN KITA MEMAAFKAN DENGAN SEMPURNA,

Lupakan siapa yang bersalah atau siapa yg harusnya minta maaf. lembutkan hati dan ulurkan maaf, karena minta maaf tidak akan merugikan amal dan harta kita

Tidak ada pilihan, karena hukum telah jelas dan Islam telah sempurna. Kita harus segera bertaubat kepada Allah, dan bersilaturrahim kepada orang yg kita putuskan tali persaudaraannya dengan terlebih dahulu memberinya salam.

“Tidak halal bagi seorang laki-laki memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam”
(HR Bukhari, Fathul Bari : 10/492 | Diriwayatkan dari Abu Ayyub Ra)


Ketika kita telah melembutkan hati dan mengulurkan tangan kemudian dia menolak, maka kita telah lepas dari tanggungan dosa, dan orang yang menolak uluran maaf kita tetap berdosa dan tidak lepas dari ancaman Neraka Allah..

Bersegeralah,
Lembutkan hati kita dan hempaskan kebencian yang masih tersisa, ingat rasa berat dan angkuh itu adalah dari bisikan bisikan Iblis yang sedang meracuni fikiran dan hati kita.

Meminta maaf tidak akan pernah merugikan amal kita 

Dalam hal ini harus saya sertakan juga, tentang sebuah kondisi yang dibolehkan syariat bahwasannya seorang muslim/muslimat boleh menjauhi saudaranya dalam beberapa kondisi dan ada alasan yang dibenarkan, seperti karena ia meninggalkan shalat, atau terus menerus melakukan maksiat sedang pemutusan hubungan itu berguna bagi yang bersangkutan; misalnya membuatnya kembali kepada kebenaran.

Semoga bermanfaat,
Jangan dianggap dakwah, hanya dalam rangka mempererat tali silaturahim diantara kita. semoga kita selalu menjadi hambanya yang cendrung kepada syukur dan berbahagia di Dunia dan Akhirat.

Oh iya,
Tak terasa, di mimbar FB ini ana sudah banyak menggoreskan catatan catatan sederhana dan cuap cuap di status dan komentar, diantaranya mungkin ada yang MENGGIGIT, terasa menampar atau bukan tak mungkin menimbulkan kebencian kebencian..

Dengan ini, kepada semua teman yang membaca, meski tangan tidak berjabat, dan bertemu wajah dengan senyum ketulusan, dengan segala kerendahan hati ana pribadi Atas nama Pena Nurudin Al Indunissy meminta dengan kesungguhan hati utuk meminta kebesaran jiwanya dengan maaf yang sempurna
01.10 | 0 Komentar

Untitled

Yang menghiasi militansi tarbiyah dan da’wah mereka pada tingkat individu. Izzah, hamasah dan ghirah Islamiyah. Militansi individu semakin diperkokoh dengan Semangat keterikatan (ruhul-irtibath) Semangat persaudaraan (ruhul-ukhuwah) Semangat kerjasama (ruh amal jama’i) Semangat saling memberi dan berkorban (ruhul badzl wat tadh-hiyah). Semua ini menjadikan himpunan mereka sebagai bangunan yang kokoh dan saling menopang (al-bunyan al-marshush).

Firman Allah Swt : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur rapi, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (As-Shaf: 4).
00.05 | 0 Komentar

Senyum

Written By Anonim on Minggu, 17 April 2011 | 08.43

 ”Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah”. (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi)

Sudahkah kita tersenyum hari ini?

Sudahkah kita menyebarkan senyum kepada setiap saudara kita, senyum yang penuh kasih dan sayang, senyum yang penuh dengan keikhlasan tanpa diembeli oleh keinginan dipuji. Seperti hadist diatas, bahwasanya tersenyum ketika kita bertemu dengan saudara kita termasuk ibadah, namun sudahkah itu kita lakukan?

Bukan senyum penuh arti ketika seorang laki-laki kepada perempuan...kalau itu sih ceritanya akan lain, tetapi senyum yang dilandasi kecintaan kepada Allah, senyum yang akan menyejukkan sahabat dan saudara kita yang mungkin sedang ditimpa kesusahan. Ingat bukan menertawakan lho..masa orang lagi ketiban susah kok ditertawakan, itu sih ceritanya lain lagi...tapi senyum yang akan membuat sedikit masalah saudara kita terbantu, dan sedikitnya akan membuat ceria kembali.

Ingat lho menurut penelitian bahwa senyum itu merupakan obat mujarab untuk meredakan kecemasan, lho bisa??? ya bisa lha...apa sih yang tidak bisa di dunia ini...Ya karena senyum itu akan membuat wajah akan semakin menarik, kita lihat betapa selebritis akan terlihat begitu mengagumkan ketika tersenyum, atau bagi yang sudah menikah ketika baru pulang kerja lantas dalam keadaan capek berat ternyata ketika melihat sang istri tersenyum...subhanallah rasa lelah itu seakan hilang karena melihat istri dan anak-anak di rumah meyambut kedatangan suami dengan senyum penuh keikhlasan...hehehe...jadi kepengen...

Selain itu juga ternyata senyum itu juga bisa membuat orang menjadi rileks, saya ingat ketika menghadapi sidang skripsi betapa tegangnya kala itu ditambah teman-teman juga teramat sangat tegang kelihatannya. Tapi segera saja saya redam dengan senyum penuh harap kepada Allah agar diberi kemudahan dan Alhamdulillah saya bisa rileks dan tenang...bahkan teman-teman yang lain banyak yang aneh dan bertanya.."kok tenang amat kaya yang gak akan sidang aja.." ya saya jawab ikhlaskan saja dan senyumlah..karena itu akan menurunkan kadar hormon stress.

Dan yang terpenting, adalah senyum itu juga akan menyebarkan kegembiraan kepada orang-orang disekitar kita. Hal ini karena dengan tersenyum akan melepaskan senyawa endorphin sehingga membuat orang-orang di sekitar kita bahagia, selain itu senyum adalah facelift alamiah yang sangat efektif. Kalau tidak percaya, coba sahabat semua memakai muka murung dihadapan saudara-saudara kita pasti mereka akan ikut murung...

Jadi, apa ruginya sih kalau kita tersenyum sedikit kepada saudara kita...tho tidak harus bayar, malah akan membuat saudara, sahabat dan orang-orang terdekat kita akan ikut bahagia...nah kalau sudah begitu kan itu namanya ibadah karena sudah membahagiakan orang lain...ingat juga lho sedekah yang paling ringan adalah senyum. Wallahu'alam.
08.43 | 0 Komentar

Tangga Pertama itu Bernama Malu


Suatu hari, demikian dikisahkan, seorang lelaki mendatangi Imam Hambali (780-855). Ia lelaki yang banyak bergelimang maksiat. Tiba-tiba ia datang ke majelis pengajian Imam Hambali untuk menceritakan mimpinya.

Dalam mimpi itu, kata lelaki itu, ia merasa tengah berada dalam kerumunan manusia yang ada di hadapan Rasulullah SAW. Rasul tampak berada di tempat yang agak tinggi. Satu per satu, orang-orang mendatangi Rasul dan berkata, “Doakan saya ya Rasulullah.” Rasul pun mendoakan orang-orang itu.
“Akhirnya tinggal aku sendiri,” kata lelaki yang menceritakan mimpinya itu. “Aku pun sangat ingin mendatangi beliau, tapi aku malu atas berbagai maksiat yang telah kulakukan. Rasul lalu berkata,”Mengapa kau tidak datang kepadaku dan minta kudoakan?”

“Wahai Rasulullah,” kata lelaki itu, “Aku terhalang oleh rasa malu akibat perbuatan-perbuatan burukku di masa lalu.” “Kalau engkau merasa terhalang oleh rasa malu, berdirilah dan mintalah agar aku
mendoakanmu. Bukankah engkau tak pernah menghina para sahabatku,” jawab Rasul dalam mimpi tersebut.

Itu hanya sebuah kisah kecil dari pergulatan panjang umat manusia meninggalkan kemaksiatan untuk hijrah ke bumi kebaikan. Perjumpaan serta dialog dengan Rasul pun hanya ada dalam mimpi, bukan dalam kenyataan. Mimpi bukanlah dasar yang kukuh untuk dijadikan pegangan, walau para pecinta sejati Rasulullah meyakini bahwa mimpi bertemu Rasulullah adalah sama dengan pertemuan yang sebenarnya, dan mimpi seperti itu hanya mungkin dialami oleh mereka yang mendapat syafaat.

Tapi Imam Hambali menghargai keterangan lelaki pendosa tersebut. Laki-laki itu punya rasa malu atas perbuatan-perbuatan buruknya. Rasa malu itu yang mencegahnya terperosok semakin dalam ke jurang kemaksiatan, dan malah mengangkatnya ke dataran kebaikan. Mimpi itu adalah jalan yang mengantarkannya menuju pertobatan dengan menemui Imam Hambali. Maka, Imam Hambali pun berkata pada lelaki itu untuk
menyebarkan kisah tersebut agar memberi kemanfaatan pada orang-orang lain.

Di dalam perjalanan manusia sebagai hamba untuk mendekat pada Sang Kekasih, Allah Azza Wajalla, rasa malu baru merupakan tangga yang pertama. Masih sangat jauh dari perwujudan rasa cinta yang semestinya. Tapi, apa yang membuat kita dapat mencapai tangga ke-99 bila tangga pertama pun kita tak sanggup menapakinya? Bukankah kita tak melupakan petunjuk Rasulullah bahwa “Malu adalah sebagian dari iman.”

Rasul sekalipun menggenggam rasa malu di hadapan Allah Sang Maha Penyayang. Setidaknya itu tercetus dalam kisah Mi’raj, saat Muhammad SAW menerima perintah secara langsung agar umatnya menegakkan salat. Konon, mula-mula Allah memerintahkan salat 50 kali dalam sehari. Rasulullah sempat menyanggupi, namun Rasul lain yang ditemui dalam perjalanan gaib tersebut mengingatkannya bahwa tugas itu terlalu berat bagi umat Muhammad.

Rasul pun meminta keringanan sehingga tugas diturunkan lima kali. Masih terlalu berat, Rasul meminta keringanan lagi. Demikian terus-menerus hingga kewajiban salat hanya lima kali sehari. Saat itu, Muhammad SAW diingatkan bahwa lima kali sehari masih terlampau berat. Namun, Rasul telah malu hati untuk kembali mengajukan keringanan pada Allah SWT.

Hanya Allah yang Mahatahu seberapa benar kisah tersebut, tapi kisah itu telah menunjukkan peran malu dalam kehidupan ruhaniah Rasul. Punyakah kita rasa malu karena mengabaikan salat? Malukah kita karena hanya punya sedikit tabungan kebaikan dalam kehidupan ini.

Allah menyaksikan setiap langkah kita. Maka semestinya kita malu berbuat hal yang mubazir, apalagi maksiat, di hadapan-Nya. Semestinya kita malu tak cukup beribadah kepada-Nya. Semestinya kita malu bila tidak berkerja keras menyelesaikan amanat-masing-masing.

Semestinya kita malu tidak mensyukuri nikmat, menuntut kenaikan gaji dengan mengumpat-umpat bukan dengan meningkatkan kualitas kerja sendiri. Semestinya kita malu bila menjadi atasan tak mampu mengangkat nasib bawahan, dan sebagai pemimpin gagal menyejahterakan rakyat yang kita pimpin. Lazimnya, kita hanya malu untuk urusan duniawi di hadapan manusia lain, bukan urusan kebaikan di hadapan Tuhan.

Tokoh sufi Rabi’ah Al-Adawiyah juga mengungkapkan rasa malunya. Suatu saat, ia ditanya mengapa tidak minta pertolongan materi dari sahabat-sahabatnya. Rabi’ah menjawab tenang. “Aku malu kalau harus minta materi pada Allah, padahal Dialah pemilik segala materi. Apakah aku harus minta materi pada orang yang jelas bukan pemilik materi itu.”

Suatu doa acap dikumandangkan sebagai pujian di lingkungan pesantren. “Tuhanku, aku merasa tak pantas untuk mendapat surga-Mu. Tapi akupun tak sanggup menanggung azab neraka-Mu. Maka terimalah tobatku, maafkan segala dosaku. Sungguh Engkau adalah Pengampun Yang Maha Besar.”

Rasa malu telah membuat seorang wali Allah memanjatkan doa itu. Tidakkah kita malu bila tak mengikuti jalan yang telah ditempuh Rasulullah dan para wali Allah untuk menuju ke haribaan-Nya.
08.20 | 0 Komentar

Siapkah Kita Menghadapi Sakaratul Maut?

Written By Anonim on Sabtu, 16 April 2011 | 11.44


Kullu nafsin dzaa iqotul maut (sesungguhnya setiap yg bernyawa akan mengalami kematian)

Allah punya kuasa untuk mengambil nyawa kita kapan saja dimana saja. saat kita taat atau saat kita maksiat.

Dengan halus ataupun dengan kasar..

Dengan sakit, bencana, musibah...

Prepare u'r self, anytime anda anywhere . .
Jangan biarkan sedetikpun kita maksiat,mungkin saat itulah Allah akan mematikan kita..
Nauzubillah.!

Innalilahi wainnailaihi raji'un.
(sesungguhnya kami dariMu dan akan kembali padaMu)

Turut berduka cita untuk semua korban bencana di seluruh pelosok tanah air.
Allah masih sayang kepada kita dan menegur dengan musibah. saatnya kita bertaubat atas semua khilaf dan dosa kita..


Tiap-tiap umat memiliki ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya. (al-A’raaf: 34)
11.44 | 0 Komentar

Saling Mendo'akan


Allah Ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Allah Ta’ala berfirman tentang doa Ibrahim -alaihishshalatu wassalam-:
“Wahai Rabb kami, beri ampunilah aku dan kedua ibu bapaku dan semua orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)

Allah Ta’ala juga berfirman tentang Nuh -alaihishshalatu wassalam- bahwa beliau berdoa:
“Wahai Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke dalam rumahku dalam keadaan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.” (QS. Nuh: 28)

Dan juga tentang Nabi Muhammad -alaihishshalatu wassalam- dimana beliau diperintahkan dengan ayat:
“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912)

Dalam riwayat lain dengan lafazh:
“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.”

Penjelasan ringkas:
Mendoakan sesama muslim tanpa sepengatahuan orangnya termasuk dari sunnah hasanah yang telah diamalkan turun-temurun oleh para Nabi -alaihimushshalatu wassalam- dan juga orang-orang saleh yang mengikuti mereka. Mereka senang kalau kaum muslimin mendapatkan kebaikan, sehingga merekapun mendoakan saudaranya di dalam doa mereka tatkala mereka mendoakan diri mereka sendiri. Dan ini di antara sebab terbesar tersebarnya kasih sayang dan kecintaan di antara kaum muslimin, serta menunjukkan kesempuraan iman mereka. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Karenanya Allah dan Rasul-Nya memotifasi kaum muslimin untuk senantiasa mendoakan saudaranya, sampai-sampai Allah Ta’ala mengutus malaikat yang khusus bertugas untuk meng’amin’kan setiap doa seorang muslim untuk saudaranya dan sebagai balasannya malaikat itupun diperintahkan oleh Allah untuk mendoakan orang yang berdoa tersebut. Berhubung doa malaikat adalah mustajabah, maka kita bisa menyatakan bahwa mendoakan sesama muslim tanpa sepengetahuannya termasuk dari doa-doa mustajabah. Karenanya jika dia mendoakan untuk saudaranya -dan tentu saja doa yang sama akan kembali kepadanya- maka potensi dikabulkannya akan lebih besar dibandingkan dia mendoakan untuk dirinya sendiri.

Hanya saja satu batasan yang disebutkan dalam hadits -agar malaikat meng’amin’kan- adalah saudara kita itu tidak mengetahui kalau kita sedang mendoakan kebaikan untuknya. Jika dia mengetahui bahwa dirinya didoakan maka lahiriah hadits menunjukkan malaikat tidak meng’amin’kan, walaupun tetap saja orang yang berdoa mendapatkan keutamaan karena telah mendoakan saudaranya. Hanya saja kita mendoakannya tanpa sepengetahuannya lebih menjaga keikhlasan dan lebih berpengaruh dalam kasih sayang dan kecintaan.

Sebagai tambahan adab-adab berdoa dari dalil-dalil di atas:
1. Jika dia mendoakan orang lain maka hendaknya dia mulai dengan mendoakan dirinya sendiri.
Dari Ubay bin Ka’ab -radhiallahu anhu- dia berkata, “Jika Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- menyebut seseorang lalu mendoakannya, maka beliau mulai dengan mendoakan diri beliau sendiri.” (HR. At-Tirmizi: 5/463) Hanya saja juga telah shahih riwayat bahwa beliau -shallallahu alaihi wasallam- tidak memulai dengan diri beliau sendiri, seperti pada doa beliau untuk Anas, Ibnu Abbas, dan ibunya Abu Hurairah -radhiallahu anhum-. (Lihat Syarh An-Nawawi terhadap Shahih Muslim: 15/144, Fath Al-Bari: 1/218, dan Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmizi: 9/328)

2. Dia mendoakan kedua orang tuanya ketika dia berdoa untuk dirinya sendiri.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra`: 24)

3. Mendoakan kaum mukminin dan mukminat tatkala mendoakan dirinya sendiri.
Allah Ta’ala berfirman, “Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19
11.36 | 0 Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls